Jejak Amanah Para Anbiyaa’

image

Menjadi khalifah merupakan suratan takdir yang diberikan pada manusia. Itu merupakan kekhususan dari yang Maha Kuasa. Ketika amanah khalifah itu diberikan pada langit, bumi dan makhluk lainnya, mereka menolak karena beratnya amanah. Dengan didasari naluri, akal dan nafsu manusia menyanggupi tawaran amanah yang diberikan padanya.

Pelantikan BEM FAI UNIAT pun sejatinya ialah salah satu keberanian untuk mengambil kepercayaan dari-Nya. Memang bukan perkara mudah. Bahkan Hujjah al- Islam Imam Ghazali pernah menyatakan pada tanya jawabnya dengan tiga muridnya.

Hal yang paling berat bukanlah besi, baja, bumi atau lainnya. Tapi yang paling berat ialah AMANAH.

Demikian tegas Imam Ghazali sebagai bahan renungan. Apakah amanah ini bisa kami jalankan dengan baik atau sebaliknya. Maka alangkah indah bila bercermin pada manusia-manusia pilihan-Nya yang mampu menjalankan amanah.

Pada Nabi Adam, kita belajar untuk tak tergoda pada asyiknya jabatan sebagai penghuni surga. Pula jangan terjebak pada tipu daya Hawa. Pun kita begitu, untuk tak berbangga hati telah menjadi ‘seseorang’ di lingkungan FAI. Agar kita tak lupa pada komitmen yang sudah terucap pada bai’at yang menjadi saksi.

Pada Nabi Nuh kita merekam jejak belajar untuk sabar menggelegar. Yang dakwahnya tiada henti sebelum yang Maha Kuasa bilang berhenti. Yang langkahnya tiada putus asa meski sedikit sekali orang yang mendengarkan dan mengikuti. Pun kita begitu, bersabarlah pada kerasnya respon yang akan diterima nanti.

Pada si Tampan, Nabi Yusuf, kita belajar untuk tak menaruh dendam. Ia yang dibuang pada kegelapan dalam sumur. Saat jumpa lagi ia sudah sebagai raja dengan saudara-saudaranya yang dulu kejam, tak terbesit sama sekali dendam. Bahkan ia yang dijerumuskan dalam penjara yang menyempitkan. Tetap memberikan solusi soal kabar tabir mimpi kemarau berkepanjangan. Maka tak pantas rasanya bila kita menaruh rasa sakit bila ke depan mengalami banyak penolakan.

Pada si Kaya, Nabi Sulaiman, belajarlah untuk sikap tegasnya yang tak pandang bulu. Ia hampir saja menghukum Hud Hud karena mangkirnya saat ia butuh Hud Hud untuk ditugaskan. Maka dengan bijaksana, Sulaiman mendengarkan titah Hud Hud yang membawakan kabar berita soal kealpaannya. Berkaca padanya yang tak menjadikan jabatan dan harta sebagai tuan. Baginya Allah tetaplah raja, yang kaya tetap ada yang Maha Kaya. Sudahkah kita sepertinya?

Pada Bapak Para Anbiyaa’, Nabi Ibrahim, sejenak untuk merasa tidak takut. Yang melawan raja Namrud lalim dengan poyak porandakan patung-patung yang disembah sebagai tuhan. Kita sebagai kepercayaan mahasiswa/i FAI sudah selayaknya bersuara tanpa resah. Bila atasan kita ada yang salah.

Pada Rasulullah, apa harus dijelaskan?
Setidaknya, kita baca lagi sejarah tentangnya. Bahwa dalam organisasi, utamakan Allah melebihi apapun. Yang tetap shalat awal waktu meski sibuk rapat. Yang menjaga sunnah meski banyak tugas yang deadline. Yang mendengarkan pendapat pada bawahan. Yang mengatur siasat dan strategi usai mendahulukan ibadah. Tak cukup bila harus menuliskannya lagi.

Maka, selamat dan sukses atas Pelantikan BEM FAI UNIAT Periode 2015/2016.
Semoga amanah dalam menjalankan baktinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s